Langsung ke konten utama

Mistisisme Islam Jawa [2]

Kata makhluk itu, ayam putih tersebut untuk mendukung keberhasilan panen sawah warga di sekitar sendang. Pak Mukmin tidak langsung percaya begitu saja. Untuk membuktikan kebenaran suara roh penunggu sendang, dia pulang menemui pamannya. Ternyata sang paman sedang tidur nyenyak. Jadi jelas, sosok yang ditemui di sendang tadi bukan pamannya. Malam itu juga Pak Mukmin mengundang warga desa ke mesjid dan memberi tahu agar tidak lagi memberikan sesajen ke sendang.

“Jika ada sesuatu yang terjadi, saya bertanggung jawab,” kata Pak Mukmin. Malam berikutnya, Pak Mukmin mimpi bertemu lagi dengan raksasa penunggu sendang dan ia menyatakan akan pergi, tapi akan minta tumbal. Semula saya cemas. Tapi kemudian setiap malam, saya salat tahajud memohon pertolongan Allah untuk menolak tumbal yang diinginkan raksasa itu. Alhamdulillah, sampai hari ini tidak ada korban, ungkap Pak Mukmin.

Kisah di atas menggambarkan bagaimana “kesaktian” ayat-ayat Alquran untuk mengusir roh penunggu sendang di desa tadi. Sejak saat itu, berkat bacaan Quran, sendang tersebut bersih, aman, dan tidak dikotori dengan sesajen. Pak Mukmin pun makin dihormati masyarakat karena kemampuannya memanfaatkan kekuatan magis ayat Alquran untuk mengusir raksasa yang dijuluki Ki Sangu Banyu itu.

Di kalangan masyarakat Jawa tradisional, efek magis ayat-ayat Alquran jauh lebih dikenal ketimbang efek “petunjuk jalan yang benar” dari ayat-ayat itu. Karena itu, penghormatan terhadap kiai pun tidak hanya berdasarkan pengetahuan agamanya yang luas, tapi juga pada keunggulan karomahnya. Karomah, yang menurut Gilsenan merupakan tindakan atau peristiwa ajaib yang menyertai para wali, hanya bisa muncul pada orang-orang yang saleh, yang rajin salat, dan baca Alquran.

Itulah sebabnya, bagi orang Jawa, Alquran itu suci dan sakti, yang karenanya, tidak boleh ditaruh sembarangan. Bagi orang Jawa, Alquran harus dihormati, baik isinya maupun fisiknya. Sebab dalam Alquran terkandung ayat-ayat yang punya magis dan kekuatan yang luar biasa. Karena itu, melalui media tertentu, ayat-ayat Alquran bisa dipakai untuk obat (medis), obat psikologis (penenteram hati), obat antihama (pestisida), dan obat-obat yang lain.

Pandangan tersebut di kalangan Islam modernis mungkin dianggap salah dan kuno. Namun, itulah cara orang Jawa menghargai Alquran, sedemikian rupa sehingga mereka tidak berani melanggar pesan-pesan Alquran. Bagi orang Jawa, kulminasi hidup dan kesempurnaan hidup akan dicapai jika jiwa raga seseorang telah menyatu dengan Alquran. Nabi Muhammad, kata Siti Aisyah, adalah contoh Alquran yang hidup.

Bagi orang Jawa, Alquran yang hidup itu terlihat dari perilaku para wali dan kiai yang memiliki karomah dan kekuatan magis yang hebat. Kehebatan Wali Songo, bagi orang Jawa, karena kemampuan mistik dan karomahnya yang luar biasa, yang bersumber dari Alquran.

Shalmi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mistisisme Islam Jawa [1]

Ilustrasi ALQURAN  adalah sebuah kitab suci yang menyajikan dua dimensi sekaligus: dimensi rasional dan mistikal. Banyak ayat yang mengajak orang Islam untuk mengembangkan wawasan rasional (akal), tapi juga banyak ayat yang mengajak untuk mengembangkan wawasan mistikal (irasional). Annemarie Schimmel, ahli mistisisme Islam, misalnya, menganggap bahwa sufisme yang mengacu pada mistik Islam demikian rumit dan kompleks karena penyebaran Islam ke tiga benua (Asia, Afrika, dan Eropa) mau tidak mau harus mengakomodasi budaya lokal berikut legenda-legenda, dongeng-dongeng dan mitos-mitosnya untuk dimasukkan dalam koridor Islam dan Alquran. Schimmel menulis, orang yang mendalami mistik Islam bagaikan melihat suatu daerah perbukitan yang luas terbentang di depan mata dan semakin lama dia mencari jalan, maka semakin sulit mencapai tujuannya. Suatu ketika dia mungkin tinggal di taman mawar mistik Persia, tapi di waktu lain dia berada di puncak-puncak dingin renungan filosofi Yunani. Kal...